Diberdayakan oleh Blogger.

Kamis, 17 Juli 2014

Pesawat MAS MH17 Jatuh di Ukraina

Sebelas warga negara Indonesia termasuk dari 295 orang yang berada di pesawat Malaysia Airlines yang jatuh di Ukraina.
Imam Asyari, pejabat KBRI yang berada di bandara Schiphol mengatakan tengah menunggu pihak Malaysia Airlines mengeluarkan nama-nama penumpang pesawat.
Pemerintah Ukraina mengatakan pesawat itu ditembak jatuh di timur negara itu, kawasan yang dikuasasi pemberontak pro-Rusia.
Mereka mengatakan seluruh penumpang termasuk 15 awak di pesawat MH17 meninggal.
Joss Wibisono, seorang penulis Indonesia yang tinggal di Belanda, memastikan tantenya termasuk salah seorang penumpang di pesawat itu.
"Saya mengantar tante saya berangkat jam 10.00 pagi di bandara Schiphol masuk ke pesawat dalam tujuan Jakarta ... besok pagi jadwalnya sampai ke Kuala Lumpur dan dengan pesawat sambungan ke Jakarta.
mh17
Pihak KBRI di Belanda masih menunggu pernyataan resmi dari Malaysia Airlines.
"Dia punya teman dekat, seorang warga Indonesia juga, yang bersama dia. Mereka di Belanda sejak April lalu dan hari ini berangkat ke Jakarta," tambah Joss.
Presiden Ukraina, Petro Poroshenko mengatakan pesawat itu ditembak jatuh dalam apa yang ia sebut tindak terorisme.
Ia menyerukan penyelidikan internasional atas jatuhnya pesawat ini.
Pejabat Ukraina menyalahkan separatis pro-Rusia namun pemberontak menyanggah terlibat dan menuding pemerintah yang justru bertanggung jawab.

Kamis, 10 Juli 2014

Manunggaling Dharmasastra Dalam Event SIPA 2011





TOPENG yang merupakan bentuk tiruan wajah manusia dan berasal dari kayu ternyata juga dapat menjadi peralatan berkesenian dalam ajang kebudayaan.

Dalam event Solo International Performing Art (SIPA) 2011 yang dihelat pada 1–3 Juli 2011 di Pamedan Pura Mangkunegaran Solo,Glorious Mask (kejayaan topeng) sengaja diambil sebagai tema pergelaran.Tema ini dipilih karena dapat menggambarkan segala kehidupan yang berjaya di balik topeng dan mengingat ada semacam daya tarik yang melingkupinya serta memiliki banyak nilai kebudayaan yang antara lain dapat ditelusuri mulai dari proses penciptaannya hingga menjadi tiruan sejuta wajah.

Inilah mengapa kemudian tema topeng bukan hanya artifisial wajah untuk keperluan seni pertunjukan.Tema ini sengaja diusung justru untuk mengambil spirit dari banyaknya energi yang terjejakkan dari proses penciptaan sebuah karya seni bernama topeng. Di setiap etnik selalu saja ada budaya topeng, entah itu di wilayah Nusantara maupun mancanegara. “Dari sana akan banyak terungkap tentang kekuatan dan ketahanan sebuah tradisi masyarakat.

Energi inilah yang diharapkan dapat terkemukakan dalam SIPA 2011 ini. Sebab glorious of mask adalah glorious of Solo juga,” ujar Ketua Panitia SIPA 2011 Irawati Kusumarasri ketika ditemui di sela-sela acara. Dalam pembukaan panggung SIPA, lanjut dia, tampak berbagai topeng wajah yang diperlihatkan oleh 68 penari belia dari Semarak Candrakirana Art Center yang menarikan tarian pembukaan SIPA bertajuk Kejayaan Topeng, bersama- sama dengan maskot dan ikon SIPA 2011 yang dibawakan oleh Gusti Pangeran Harya (GPH) Paundrakarna.

Enam penari di antaranya terlihat lebih menonjol dengan mengenakan kostum dan topeng yang berbeda. Keenamnya ini ternyata melambangkan keberadaan benua Asia, Australia, Eropa,Amerika,Afrika,dan negara Indonesia yang diwakili dari daerah Kalimantan. Menariknya tarian kolosal tersebut merupakan hasil kreativitas dari Paundrakarna yang bekerjasama dengan beberapa pelatih seni tari dari Semarak Candrakirana Art Center.

Performance ini sekaligus menjadi tarian pembuka dalam perhelatan SIPA 2011. Namun sebelumnya,pertunjukan SIPA 2011 tersebut secara resmi dibuka oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Amalia Sari Gumelar yang didampingi Walikota Solo Joko Widodo, Ketua Jaringan Asia Pasifik Layak Anak Karen Malone, dan Ketua Panitia SIPA 2011 Irawati Kusumarasri.

“Dari berjuta wajah yang diwujudkan dalam bentuk topeng itu, terdapat semangat yang berjuta pula. Semangat dari banyak wajah yang sedang dan akan terus berupaya untuk membangun kota, utamanya Kota Solo Kota Budaya,”harap dia. Tidak hanya delegasi dari dalam kota Solo, SIPA 2011 juga diwarnai dengan serangkaian pertunjukan seni budaya dari beragam etnis dan berbagai bangsa yang ada di dunia.

Dari total 16 delegasi seni budaya, 7 di antaranya berasal dari luar negeri seperti Thailand, Korea, USA, India, Malaysia, Belanda dan Meksiko. Sedangkan 9 lainnya berasal dari wilayah nusantara seperti Solo, Yogyakarta, Makassar,Pontianak, Jakarta,m Medan, Bali, Bandung, dan Cirebon.

“Di hari pembukaan SIPA 2011 ada 1500 topeng dan 2000 kembang api lidi yang diberikan kepada para penonton untuk menandai prosesi pembukaan SIPA untuk yang ketiga kalinya pada 2011 ini,”jelasnya. Irawati menambahkan bahwa SIPA 2011 merupakan sebuah pagelaran seni budaya bertaraf internasional yang dapat meningkatkan potensi budaya dan wisata di kota Solo.

Ini juga menjadikan hal tersebut sebagai magnet tersendiri bagi wisatawan asing maupun domestik. Apalagi bertepatan dengan liburan panjang sekolah bagi pelajar dan mahasiswa, yang diharapkan mampu mengisi liburan dengan menanamkan kecintaan kepemilikan para generasi muda terhadap budaya dan kesenian yang ada di Indonesia.

“Muara dari misi ini adalah menjadikan SIPA sebagai event yang bergengsi di mata dunia dan berdampak pada peningkatan taraf kehidupan masyarakat Solo,”ungkap dia. Pada hari pertama pembukaan SIPA 2011 telah tampil dua delegasi dari luar negeri yakni Hahoe Pyolshin Gut T’alnori dari Korea dan Janis Brenner dari Amerika Serikat.

Di samping itu hadir pula Didik Nini Thowok,penari kenamaan asal Yogyakarta yang juga ikut memeriahkan pertunjukan tersebut dengan menampilkan tarian Dewi Sarak Jodag. Kemudian Daya Presta dari Jakarta, Sanggar Al-Ashri dari Makassar, Sulawesi Selatan, Teater Sape dan Sanggar Borneo Tarigas dari Kabupaten Kubu Raya Kalimantan Barat.

Pada hari kedua juga tampil delegasi dari Thailand, yakni Ronnarong Khampha yang berkolaborasi dengan penari Jawa Riyanto,Teater Aron dari Medan, Saung Angklung Udjo dari Bandung Jawa Barat, I Nyoman Sura dari Bali,JNICC dari India, dan Persenti dari Disbudpar Banyuwangi.

Kemudian di hari ketiga ada Universiti Malaysia Sabah dari Malaysia, Manunggaling Dharmasastra dari Disbudpar Cirebon, Liene Robana Dance Company dari Belanda, Los Peyoteros dari Meksiko, dan Sruti Respati dari Solo. “Delegasi dari Solo sendiri diwakili oleh penyanyi dan sinden kenamaan asal Solo Sruti Respati yang pentas di hari ketiga dan pada penampilan terakhir. Sengaja diatur sedemikianrupakarenapenampilan dari Solo ibaratnya merupakan gong atau puncaknya pertunjukan SIPA 2011,”paparnya.

Sementara itu penari dan koreografer Ronnarong Khampha yang mewakili negara Thailand menampilkan pertunjukan seni tari yang bertajuk King Nature.Dirinya yang berkolaborasi dengan penari Jawa Riyanto mempersembahkan konsep tarian yang dilatarbelakangi dari sebuah poem yang mengisahkan Raja Rama V.

 

Blogger news

Blogroll

About