Diberdayakan oleh Blogger.

Minggu, 14 September 2014

Macam-macam Jenis Tarian di Indonesia



TARI TOPENG

Secara historis, pertunjukkan tari topeng diawali di Cirebon tepatnya pada abad ke-19 yang dikenal dengan Topeng Bahakan. Menurut T. Tjetje Somantri (1951) daerah Jawa Barat antara lain Sumedang, Bandung, Garut dan Tasikmalaya pada tahun 1930 didatangi oleh rombongans topeng berupa wayang wong dengan dalangnya bernama Koncer dan Wentar. Berdasarkan data historis inilah teori awal munculnya tari topeng ke Jawa Barat (Priangan) ditetapkan sebagai awal perkembangan Tari Topeng Priangan.
Bentuk pertunjukkan tari topeng dibedakan atas dua bentuk pertunjukan yaitu topeng Cirebon dan Topeng Priangan. Adapun bentuk pertunjukkan Tari Topeng Cirebon memiliki bermacam-macam bentuk yaitu :
  • Topeng Babarang / Baragan
  • Topeng Hajatan / Dinaan
  • Topeng Ngunjung
  • Topeng Kuputarung
Sedangkans topeng Priangan hanya tersaji dalam satu bentuk saja yang lebih bersifat entertaintment (hiburan)
Susunan penyajian tari topeng pun memiliki perbedaan. Tari Topeng Cirebon memiliki lima bagian penyajian yaitu :
Panji, dilakukan pada bagian pertama, karakteristiknya halus atau lungguh, memakai kedok yang berwarna putih
  • Pamindo/Samba : menggambarkan seorang raja yang menginjak dewasa yang serba ingin tahu, gerakannya enerjik, lincah dan penuh dinamika
  • Rumyang : menggambarkan seseorang yang beranjak dewasa dan serba ingin tahu terhadap lingkungan sekitarnya. Gerakannya lincah, lembut, tegas dan terputus-putus dengan kedok berwarna merah jambu (pink)
  • Tumenggung/Patih : karakteristik Tumenggung adalah gagah. Tarian ini dilatarbelakangi oleh kisah Tumenggung Magang Diraja yang diutus untuk menaklukkan Jinggananom. Kedok yang harus digunakan oleh tokoh Tumenggung adalah Slasi, Drodos dan Sanggan. Sementara tokoh Jinggananom memakai kedok Tatag Prekicil, Peloran dan Mimis
  • Kelana/Rowana: menggambarkan personalitas raja yang gagah dan angkara murka. Kedok yang digunakan berwarna merah tua atau kecoklatan. Dengan ciri khas berkumis dan berjambang tebal, serta memakai mahkota susun emas.
Didalam pertunjukkan topeng Cirebon yang utuh, terdapat beberapa macam kedok bodor yang juga ikut ditampilkan, antara lain kedok tembeb, pentul dan dayun.
Adapun susunan Tari Topeng Priangan mencakup tiga watak yaitu :
  • Tari Topeng Tumenggung, menggambarkan watak seorang pejabat tinggi yang karismatik, berpengaruh dan disegani masyarakat sekitarnya.
  • Tari Topeng Kencana Wungu, menggambarkan karaktek yang lincah dan dinamis, dengan kedok berwarna telor asin.
  • Tari topeng kelana : menggambarkan karakter yang enerjik dan kasar.

TARI WAYANG

Tari wayang mulai dikenal masyarakat pada masa kesultanan Cirebon pada abad ke-16 oleh Syekh Syarif Hidayatullah, yang kemudian disebarkan oleh seniman keliling yang datang ke daerah Sumedang, Garut, Bogor, Bandung dan Tasikmalaya.
Berdasarkan segi penyajiannya tari wayang dikelompokkan menjadi 3 bagian antara lain :
  1. Tari Tunggal yaitu tarian yang dibawakan oleh satu orang penari dengan membawakan satu tokoh pewayangan. Contoh : Tari Arjuna, Gatotkaca, dll
  2. Tari berpasangan, yaitu tarian yang dibawakan oleh dua orang penari atau lebih yang keduanya saling melengkapi keutuhan tariannya, contoh : Tari Sugriwa, Subali dll.
  3. Tari Massal yang berjumlah lebih dari satu penari dengan tarian atau ungkapan yang sama. Contoh : Tari Monggawa, Badaya.
Tari wayang memiliki tingkatan atau jenis karakter yang berbeda misalnya karakter tari pria dan wanita. Karakter tari wanita terdiri dari Putri Lungguh untuk tokoh Subadra dan Arimbi serta ladak untuk tokoh Srikandi.
Sedangkan karakter tari pria terdiri dari :
  • Satria Lungguh untuk tokoh Arjuna, Abimanyu, dan Arjuna Sastrabahu.
  • Satria Ladak Lungguh untuk tokoh Arayana, Nakula dan Sadewa
  • Satria Ladak Dengah/Kasar untuk tokoh Jayanegara, Jakasono, Diputi Karna dan sebagainya
  • Monggawa Dengah/Kasar seperti Baladewa dan Bima
  • Monggawa Lungguh seperti Antareja dan Gatotkaca
  • Denawa Raja seperti Rahwana dan Nakula Niwatakawaca.
Secara garis besar, jika dilihat dari segi koreografinya tari wayang memiliki tiga gerakan utama yaitu :
Pokok ialah patokan tarian, gerak tersebut antara lain adeg-adeg, jangkung ilo, mincid, keupat, gedut, kiprahan, tindak tilu, engkek gigir, mamandapan, dan calok sembahan
Peralihan ialah gerak sebagai sisipan yang digunakan sebagai peralihan dari gerak satu ke gerak yang lainnya. Misal cindek, raras, trisi dan gedig. Khusus ialah gerak secara spesifik yang terdapat pada tari tertentu.

TARI KURSUS

Berdasarkans etimologinya, arti kata khusus berasal dari Bahasa Belanda Curcus yaitu belajar secara teratur. Tari Kursus merupakan perkembangan dari tari Tayub yang tumbuh dan berkembang pada masa keemasan kaum bangsawan tempo dulu.
Tari kursus berdiri pada 1927 yang dikenal dengan nama perkumpulan Wirahmasari pimpinan R. Sambas Wirakusumah dari Ranca Ekek Bandung. Tari Kursus merupakan salah satu tarian yang diajarkan secara sistematis dan mempunyai patokan atau aturan tertentu dalam cara membawakannya. Disamping itu tari kursus juga mempunyai nilai estetis yang cukup tinggi dan kaya akan pokabuler gerak.
Berdasarkan bentuk penyajiannya tari kursus dibagi kedalam 5 tahapan yakni :
  1. Tari Lenyepan : karakternya lembut, halus, selaras dengan Satrias Lungguh.
  2. Tari Gawil : karakternya lanyap atau ladak selaras dengan Satria Dangah
  3. Tari Kawitan : karakternya lenyep atau lanyap dan Ponggawa.
  4. Tari Gunungsari : karakternya ponggawa lungguh
  5. Tari Kastawa : karakternya agung
Tatanan gerak tari kursus dapat dibagi kedalam lima kelompok yang terdiri dari :
  1. Gerak Pokok : rangkaian dari gerak unsur, penghubung dan peralihan
  2. Gerak Unsur : sikap-sikap yang terdiri dari kesatuan bentuk-bentuk yang terdapat pada kaki, lengan, kepala, leher, bahu, badan dan mata
  3. Gerak Penghubung : menghubungkan bentuk sikap yang satu untuk mencapai bentuk atau sikap lainnya
  4. Gerak Peralihan : menyangkut perpindahan adegan terutama pada gerak-gerak pokok yang satu kepada yang lain
  5. Gerak Pelengkap : gerak sisipan yang memperindah gerak dan sikap.
Karawitan yang digunakan dalam penyajian tari kursus adalah gamelan pelengkap dengan laras Salendro atau Pelog. Waditranya terdiri dari saron satu dan dua, seperangkat kendang, demung, kenong, rebab, gambang, bonang, rincik, penerus, peking, kecrek, selentem, kempul dan gong besar. Pada umumnya jenis lagu yang dibawakan yaitu lagu ageung, opat wilet naek lagu kering dua dan tiga dengan tempo 4 gurudugan.

Masjid Merah Panjunan Cirebon



MASJID MERAH PANJUNAN CIREBON

Di Cirebon selain terdapat Masjid Agung Sang Ciptarasa, juga terdapat masjid tua yang ukurannya lebih kecil, yaitu Masjid Merah Panjunan. Masjid ini fungsinya hanya untuk tempat sholat sehari-hari, tidak dipakai untuk ibadah sholat Jum’at. Masjid yang berada di tengah pemukiman padat ini secara administratif berada di wilayah Kampung Panjunan, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Lemah Wungkuk. Masjid berada di sudut Barat Daya perempatan jalan. Sebelah utara merupakan Jl. Kolektoran, sebelah timur merupakan ruas Jl. Masjid Abang. Di sebelah selatan terdapat bangunan untuk posyandu dan rumah penduduk serta sebelah barat merupakan pemukiman.


Bangunan masjid yang letaknya tepat berada pada koordinat 06° 43ʹ 087ʺ LS - 108° 33ʹ 970ʺ BT , ini berdiri di atas lahan seluas 150 m². Latar belakang sejarah masjid yang berdiri di perkampungan Arab ini telah berumur sekitar 524 tahun. Pada tahun 1480 Pangeran Panjunan membangun surau, yang kemudian dikenal dengan nama Masjid Merah Panjunan. Surau ini dibangun 18 tahun sebelum pembagunan Masjid Agung Sang Ciptarasa. Dengan demikian surau ini merupakan tempat ibadat umat Islam kedua di Cirebon, setelah Tajug Pejlagrahan di Kampung Sitimulya. Dikenal demikian karena dinding Masjid ini dibangun dari susunan bata merah ekspose, sementara nama Panjunan menunjuk pada nama kampung di mana masjid itu berada.
Pembangunan Masjid Merah Panjunan berkaitan dengan migrasi keturunan Arab ke Cirebon pada sekitar abad ke-15. Dalam babad Cirebon disebutkan pada masa pemerintahan Sunan Gunung Jati, surau ini kerap digunakan untuk pengajian dan musyawarah Wali Sanga. Ketika Kesultanan Cirebon diperintah oleh Panembahan Ratu ( Cicit Sunan Gunung Jati). Pada tahun sekitar 1549, halaman masjid dipagar dengan kuta kosod ( bata disusun tanpa lepa ). Pada pintu masuk dibangun sepasang gapura candi bentar dan pintu panel jati berukir. Keadaan tata ruang masjid yang masih terawat ini bertahan hingga sekarang. Atap sirap pada tahun 2001-2002 dipugar oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Barat. Pada awalnya masjid ini dikelola oleh pihak Kesultanan Kasepuhan, namun sekarang sudah diserahkan pengelolaannya kepada DKM Panjunan.

Kamis, 17 Juli 2014

Pesawat MAS MH17 Jatuh di Ukraina

Sebelas warga negara Indonesia termasuk dari 295 orang yang berada di pesawat Malaysia Airlines yang jatuh di Ukraina.
Imam Asyari, pejabat KBRI yang berada di bandara Schiphol mengatakan tengah menunggu pihak Malaysia Airlines mengeluarkan nama-nama penumpang pesawat.
Pemerintah Ukraina mengatakan pesawat itu ditembak jatuh di timur negara itu, kawasan yang dikuasasi pemberontak pro-Rusia.
Mereka mengatakan seluruh penumpang termasuk 15 awak di pesawat MH17 meninggal.
Joss Wibisono, seorang penulis Indonesia yang tinggal di Belanda, memastikan tantenya termasuk salah seorang penumpang di pesawat itu.
"Saya mengantar tante saya berangkat jam 10.00 pagi di bandara Schiphol masuk ke pesawat dalam tujuan Jakarta ... besok pagi jadwalnya sampai ke Kuala Lumpur dan dengan pesawat sambungan ke Jakarta.
mh17
Pihak KBRI di Belanda masih menunggu pernyataan resmi dari Malaysia Airlines.
"Dia punya teman dekat, seorang warga Indonesia juga, yang bersama dia. Mereka di Belanda sejak April lalu dan hari ini berangkat ke Jakarta," tambah Joss.
Presiden Ukraina, Petro Poroshenko mengatakan pesawat itu ditembak jatuh dalam apa yang ia sebut tindak terorisme.
Ia menyerukan penyelidikan internasional atas jatuhnya pesawat ini.
Pejabat Ukraina menyalahkan separatis pro-Rusia namun pemberontak menyanggah terlibat dan menuding pemerintah yang justru bertanggung jawab.

Kamis, 10 Juli 2014

Manunggaling Dharmasastra Dalam Event SIPA 2011





TOPENG yang merupakan bentuk tiruan wajah manusia dan berasal dari kayu ternyata juga dapat menjadi peralatan berkesenian dalam ajang kebudayaan.

Dalam event Solo International Performing Art (SIPA) 2011 yang dihelat pada 1–3 Juli 2011 di Pamedan Pura Mangkunegaran Solo,Glorious Mask (kejayaan topeng) sengaja diambil sebagai tema pergelaran.Tema ini dipilih karena dapat menggambarkan segala kehidupan yang berjaya di balik topeng dan mengingat ada semacam daya tarik yang melingkupinya serta memiliki banyak nilai kebudayaan yang antara lain dapat ditelusuri mulai dari proses penciptaannya hingga menjadi tiruan sejuta wajah.

Inilah mengapa kemudian tema topeng bukan hanya artifisial wajah untuk keperluan seni pertunjukan.Tema ini sengaja diusung justru untuk mengambil spirit dari banyaknya energi yang terjejakkan dari proses penciptaan sebuah karya seni bernama topeng. Di setiap etnik selalu saja ada budaya topeng, entah itu di wilayah Nusantara maupun mancanegara. “Dari sana akan banyak terungkap tentang kekuatan dan ketahanan sebuah tradisi masyarakat.

Energi inilah yang diharapkan dapat terkemukakan dalam SIPA 2011 ini. Sebab glorious of mask adalah glorious of Solo juga,” ujar Ketua Panitia SIPA 2011 Irawati Kusumarasri ketika ditemui di sela-sela acara. Dalam pembukaan panggung SIPA, lanjut dia, tampak berbagai topeng wajah yang diperlihatkan oleh 68 penari belia dari Semarak Candrakirana Art Center yang menarikan tarian pembukaan SIPA bertajuk Kejayaan Topeng, bersama- sama dengan maskot dan ikon SIPA 2011 yang dibawakan oleh Gusti Pangeran Harya (GPH) Paundrakarna.

Enam penari di antaranya terlihat lebih menonjol dengan mengenakan kostum dan topeng yang berbeda. Keenamnya ini ternyata melambangkan keberadaan benua Asia, Australia, Eropa,Amerika,Afrika,dan negara Indonesia yang diwakili dari daerah Kalimantan. Menariknya tarian kolosal tersebut merupakan hasil kreativitas dari Paundrakarna yang bekerjasama dengan beberapa pelatih seni tari dari Semarak Candrakirana Art Center.

Performance ini sekaligus menjadi tarian pembuka dalam perhelatan SIPA 2011. Namun sebelumnya,pertunjukan SIPA 2011 tersebut secara resmi dibuka oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Amalia Sari Gumelar yang didampingi Walikota Solo Joko Widodo, Ketua Jaringan Asia Pasifik Layak Anak Karen Malone, dan Ketua Panitia SIPA 2011 Irawati Kusumarasri.

“Dari berjuta wajah yang diwujudkan dalam bentuk topeng itu, terdapat semangat yang berjuta pula. Semangat dari banyak wajah yang sedang dan akan terus berupaya untuk membangun kota, utamanya Kota Solo Kota Budaya,”harap dia. Tidak hanya delegasi dari dalam kota Solo, SIPA 2011 juga diwarnai dengan serangkaian pertunjukan seni budaya dari beragam etnis dan berbagai bangsa yang ada di dunia.

Dari total 16 delegasi seni budaya, 7 di antaranya berasal dari luar negeri seperti Thailand, Korea, USA, India, Malaysia, Belanda dan Meksiko. Sedangkan 9 lainnya berasal dari wilayah nusantara seperti Solo, Yogyakarta, Makassar,Pontianak, Jakarta,m Medan, Bali, Bandung, dan Cirebon.

“Di hari pembukaan SIPA 2011 ada 1500 topeng dan 2000 kembang api lidi yang diberikan kepada para penonton untuk menandai prosesi pembukaan SIPA untuk yang ketiga kalinya pada 2011 ini,”jelasnya. Irawati menambahkan bahwa SIPA 2011 merupakan sebuah pagelaran seni budaya bertaraf internasional yang dapat meningkatkan potensi budaya dan wisata di kota Solo.

Ini juga menjadikan hal tersebut sebagai magnet tersendiri bagi wisatawan asing maupun domestik. Apalagi bertepatan dengan liburan panjang sekolah bagi pelajar dan mahasiswa, yang diharapkan mampu mengisi liburan dengan menanamkan kecintaan kepemilikan para generasi muda terhadap budaya dan kesenian yang ada di Indonesia.

“Muara dari misi ini adalah menjadikan SIPA sebagai event yang bergengsi di mata dunia dan berdampak pada peningkatan taraf kehidupan masyarakat Solo,”ungkap dia. Pada hari pertama pembukaan SIPA 2011 telah tampil dua delegasi dari luar negeri yakni Hahoe Pyolshin Gut T’alnori dari Korea dan Janis Brenner dari Amerika Serikat.

Di samping itu hadir pula Didik Nini Thowok,penari kenamaan asal Yogyakarta yang juga ikut memeriahkan pertunjukan tersebut dengan menampilkan tarian Dewi Sarak Jodag. Kemudian Daya Presta dari Jakarta, Sanggar Al-Ashri dari Makassar, Sulawesi Selatan, Teater Sape dan Sanggar Borneo Tarigas dari Kabupaten Kubu Raya Kalimantan Barat.

Pada hari kedua juga tampil delegasi dari Thailand, yakni Ronnarong Khampha yang berkolaborasi dengan penari Jawa Riyanto,Teater Aron dari Medan, Saung Angklung Udjo dari Bandung Jawa Barat, I Nyoman Sura dari Bali,JNICC dari India, dan Persenti dari Disbudpar Banyuwangi.

Kemudian di hari ketiga ada Universiti Malaysia Sabah dari Malaysia, Manunggaling Dharmasastra dari Disbudpar Cirebon, Liene Robana Dance Company dari Belanda, Los Peyoteros dari Meksiko, dan Sruti Respati dari Solo. “Delegasi dari Solo sendiri diwakili oleh penyanyi dan sinden kenamaan asal Solo Sruti Respati yang pentas di hari ketiga dan pada penampilan terakhir. Sengaja diatur sedemikianrupakarenapenampilan dari Solo ibaratnya merupakan gong atau puncaknya pertunjukan SIPA 2011,”paparnya.

Sementara itu penari dan koreografer Ronnarong Khampha yang mewakili negara Thailand menampilkan pertunjukan seni tari yang bertajuk King Nature.Dirinya yang berkolaborasi dengan penari Jawa Riyanto mempersembahkan konsep tarian yang dilatarbelakangi dari sebuah poem yang mengisahkan Raja Rama V.

 

Blogger news

Blogroll

About